Danyang Tiga Penjaga Desa Mupusan Sukoharjo


Dokumentasi  pribadi penulis /Melly Ayu Oktavia

Desa Mupusan sebuah perkampungan kecil bagian kelurahan Pondok, kecamatan Grogol, kabupaten Sukoharjo. Dikelilingi oleh anak sungai, area persawahan yang membentang luas, dan memiliki udara yang masi nampak segar di pinggiran kota Solo Baru. Solo Baru merupakan  sebuah kota kecil penunjang ekonomi dan perdagangan di kabupaten Sukoharjo  dan menurut arah mata angin desa Mupusan  tepatnya berada di selatan kota kecil ini.

Seperti pada umumnya, penduduk desa Mupusan bermata pencaharian sebagai petani, karyawan swasta, pedagang, dan juga buruh. Masyarakat di tempat ini hidup sederhana, jika dikategorikan dalam kelas kelompok ekonomi desa ini terdiri dari mayoritas besar kelompok  kelas menengah ke bawah. Keadaan sosialnya nampak jelas hidup rukun, gotong royong, dan selalu ada perkumpulan untuk menjaga tali persaudaraan antar anggota masyarakatnya. Kegiatan swadaya melekat dan berkaitan erat di desa Mupusan seperti  dalam pembangunan desa juga terlihat jelas dari hasil yang mereka kerjakan bersama-sama seperti pembuatan gedung serba guna dan pos kampling.

Awalnya desa Mupusan menjadi satu daerah rukun tetangga tetapi pada akhirnya untuk membantu mempermudah pelayanaan administrasi kependudukan maka dipecah menjadi dua rukun tetangga yaitu Rt 3 dan Rt 4 tetapi beberapa kegiatan dan perkumpulan masih dilaksanakan bersamaan seperti karang taruna dan perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus.

Desa Mupusan juga memiliki peninggalan kebudayaan yaitu kegiatan nyadaran  atau mengirimkan doa kepada leluhur pada setiap bulan ruah tanggal 25  dalam penanggalan Jawa. Biasanya kegiatan ini dilakukan sebelum puasa umat Islam dengan mengirim doa untuk arwah leluhur. Hal ini dilakukan dengan pembersihan makam  di desa Mupusan dan menabur bunga di makam kerabat dan leluhur,  adanya uro-uro atau nyanyian dengan menggunakan  tembang macapat disetiap acara pernikahan adat jawa masih dibawakan oleh tetua setempat, dan juga kegiatan  memainkan alat musik gamelan yang dihimpun di kelurahan Pondok. Desa yang tentram di tengah hiruk pikuk kota penyangga kehidupan di Kabupaten Sukoharjo. Kehadiran desa ini telah ada sejak jaman dahulu kala. Desa Mupusan memiliki kepercayaan terhadap Danyang yang melindungi desa dari mara bahaya.

Riwayat Danyang desa Mupusan kabupaten Sukoharjo : Kyai Tawang , Kyai Pupus, dan Kyai Mbarep.

Nama desa Mupusan diambil dari salah satu nama pendirinya yaitu kyai Pupus. Arti dari nama Mupusan sendiri berarti berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, desa ini memiliki harapan agar setiap masyarakatnya selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa bagaimanapun keadaan yang dihadapinya baik saat mengalami kesulitan maupun kesenangan. Kyai Tawang, kyai Pupus, dan kyai Mbarep ketiga tokoh ini dianggap sebagai tokoh yang mendirikan dan membentuk perkampungan desa Mupusan. Masyarakat percaya bahwa ketiga tokoh ini yang melindungi desa Mupusan dari mara bahaya  dan petaka selama ratusan tahun.

Sepeninggalan kyai Tawang, kyai Pupus, dan kyai Mbarep masyarakat masi percaya dengan ketiga tokoh tersebut akan tetap melindungi desa Mupusan. Masyarakat mempercayai ketiga tokoh tersebut sebagai Danyang yang akan menjaga desa Mupusan sampai kapanpun. Danyang merupakan roh leluhur yang melindungi suatu  tempat dan menetap pada sebuah punden. Kebudayaan Jawa mempercayai danyang akan melindungi suatu tempat dan menerima permohonan orang yang meminta pertolongan.

Pada jaman kolonial meletus perang antara penjajah dan pribumi, saat pasukan penjajah Belanda memasuki desa Mupusan untuk berperang melawan prajurit pribumi. Ketiga danyang dipercaya turut melindungi prajurit pribumi dari serangan prajurit belanda dengan cara menghilangkan jejak prajurit pribumi saat mereka masuk ke daerah kecepit, tempat ini merupakan lahan yang berada ditengah makam bagian barat desa Mupusan  dan desa sebelahnya yaitu pemakaman desa Telobong. Masyarakat percaya bahwa hilangnya prajurit pribumi merupakan bantuan gaib dari danyang yang melindungi desa Mupusan sehingga para penjajah tidak bisa melihat prajurit pribumi.

Danyang ini sering dikunjungi orang untuk meminta permohonan ataupun meminta wangsit atau pesan gaib melalui ritual pembakaran sesajen atau persembahan berupa makanan, bunga tujuh rupa, minuman, rokok, sekapur sirih, dan dupa serta berdoa meminta wangsit  di punden. Orang-orang percaya bahwa danyang akan mengabulkan permintaan, melindungi, memberi kelancaran dan kesuksesan di setiap aktivitasnya. Sehingga banyak orang dari berbagai daerah datang ke punden. Seperti meminta keberhasilan dalam usahanya adapula orang yang meminta untuk diberi kesaktian. 

Beberapa orang juga melakukan perjanjian dengan orang lain dan menjadikan danyang sebagai jaminan. Dengan melakukan perjanjianya di daerah kecepit, dan menjadikan danyang sebagai saksi perjanjian, dan saling menyepakati antar masing-masing orang. Jika salah satu orang melanggar janji tersebut maka danyang akan memberi balasan yang setimpal berupa malapetaka bagi orang yang melanggar.

Desa Mupusan memiliki dua makam yang berada di sebelah timur dan barat desa. Menurut penuturan Mardi Miharjo seorang juru kunci makam desa Mupusan di desa Mupusan terdapat tiga buah punden yang berada di desa Mupusan dan dikenal sebagai kyai Tawang, kyai Pupus, dan kyai Mbarep. Ketiga punden ini menjadi tempat bersemayam ketiga danyang yang melindungi desa Mupusan.

Ketiga tempat atau punden yang dipercaya merupakan tempat danyang ,punden itu sendiri berada di makam sebelah timur desa Mupusan dengan danyang kyai Pupus, makam sebelah barat desa dengan danyang kyai Tawang dan di sebelah selatan desa terdapat kebun milik warga dengan danyang kyai Mbarep. Dari wawancara yang penulis dapatakan, informasi tentang danyang penjaga desa Mupusan sangat minimum kerena masyarakat sudah tidak lagi mengetahui cerita danyang secara lengkap, menurut Mardi Miharjo seorang juru kunci makam desa Mupusan cerita tentang danyang secara lengkap  ini terakir dituturkan oleh generasi neneknya.




Gambar 2 Punden Kyai Pupus/ dokumentasi pribadi Melly ayu Oktavia

Pada punden kyai Pupus berada di bawah pohon mentigi dengan gundukan tanah dan batu bata yang sudah berlumut. Pohon ini sejak jaman dahulu tidak berubah sama sekali, tidak bertambah tinggi maupun bertambah lebar. Punden kyai Pupus  terletak di sebelah utara makam di dekat pohon bambu dan dekat dengan sungai. Saat dikujungi terdapat sisa pembakaran dupa dengan ditemukanya pula serabut kelapa.



Gambar 3 Punden Kyai Mbarep/ dokumentasi Melly Ayu Oktavia

Punden kyai Mbarep berada di sebuah kebun milik warga dekat pinggir jalan penghubung antar desa mupusan dan desa Telobong. Bentuk pundenya seperti makam yang di kramik dan diberi atap. Punden kyai Mbarep dirawat oleh keluarga seorang warga yang merantau di Jakarta. Punden kurang terawat karena banyak debu yang menempel pada punden.dan terdapat sisa pembakaran dupa.

 


Gambar 4 Punden Kyai Tawang/ Dokumentasi Melly Ayu Oktavia

Punden kyai Tawang di cor dengan semen dan dibangun pada  20 Juni 1980. Berdasarkan penuturan Mardi Miharjo, beliau hanya mengetahui sedikit tentang kyai Tawang. Kyai Tawang melindungi desa mupusan dan  memiliki sebuah jimat yang bernama  kaca benggala. Jimat kaca benggala  adalah sebuah cermin kecil yang berfungsi untuk  dapat melihat apapun termasuk juga dapat melihat mahluk halus. Jika ada orang yang memiliki jimat ini maka orang itu akan menajadi sakti karena mengetahui berbagai hal dari balik sebuah kaca kecil yang bernama kaca benggala kepunyaan kyai Tawang.

Banyak orang yang ingin memiliki jimat kaca benggala dari kyai Tawang hingga banyak orang yang melakukan ritual dan memberi sesaji serta tidur di punden di malam malam tertentu. Belum ada satu orangpun yang mengaku mendapat jimat dari kyai Tawang walaupun sudah melakukan ritual.

Anak terakhir Mardi Miharjo bercerita sewaktu kecil ia bermain dengan teman sebayanya di dekat punden kyai Tawang. Saat mereka menggali tanah untuk bermain tidak disangka mereka menemukan sebuah kaca kecil. Saat itu mereka kebingungan dan tidak sengaja mengarahkan kaca ke makam lain dan saat itu mereka melihat banyak roh halus di sekitar makam karena ketakutan mereka menggubur kaca itu di dekat punden. Karena penasaran dengan apa yang ditemukanya akhirnya mereka pulang dan bertanya kepada orang tua yaitu istri dari Mardi Miharjo. Istrinya mengetahui  cerita tentang kyai Tawang dan menyadari bahwa kaca yang di temukan anaknya adalah jimat kaca benggala kepunyaan kyai Tawang yang dicari banyak orang, tetapi saat mereka kembali  dan menggali ditempat yang sama mereka tidak menemukan kaca tersebut lagi.

Dalam perkembangan saat ini sudah jarang ada orang yang melakukan ritual di punden. Cerita tentang danyang penjaga desa Mupusanpun sudah jarang diketahui oleh masyarakat terkhusus generasi muda sekarang. Kurangnya informan atau penutur juga menjadi salah satu hal mulai hilangnya kepedulian masyarakat terhadap danyang yang ada di desa Mupusan.  Punden danyang masi dirawat oleh juru kunci makam.

Tetapi ada fakta menarik bahwa  sampai sekarang masih ada seorang yang tetap melakukan ritual di punden. Menurut penuturan Mardi Miharjo seseorang dari  daerah Klaten yang sejak dari dulu masih setia melakukan ritual di punden kyai Tawang untuk meminta jimat kaca benggala, masih rutin datang ke punden namun sampai sekarang orang itu  belum juga diberikan jimat yang dimintanya itu.

Kisah tentang danyang penjaga desa Mupusan merupakan kebudayaan lisan yang unik dan menggambarkan kehidupan dan sistem kepercayaan desa Mupusan di masa lampau yang diturunkan secara turun temurun. Hal ini berkaitan erat dengan hubungan masyarakat Jawa khususnya di desa Mupusan terhadap praktik animisme di kehidupan masa lalunya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Situs Matesih : Benda Peninggalan Prasejarah di Karang Anyar